Politik

Bawaslu Dan Solidaritas Hak Perempuan Kecam Keras Pemukulan Anggota Panwaslu Di Kep Tanimbar

AMBON,N25NEWS.COM-Berdasarkan laporan Bawaslu Kabupaten Kepulauan Tanimbar,telah terjadi pengeroyokan terhadap saudara Benedikta Yanubi (Pengawas Pemilu Desa Lorwembun) pada hari senin tanggal 25 Februari 2019 pukul : 30 wit di desa Lorwembun Kecamatan Kormomolin Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Hal tersebut disampaikan pada pernyataan sikap Kadiv Penyelesaian Sengketa Bawaslu Provinsi Maluku Astuty Usman sebagai perwakilan Bawaslu dan perwakilan dari Solidaritas Penegak Hak Perempuan Maluku pada  Konfrensi Pers di Kantor Bawaslu Provinsi Maluku,selasa (26/02/2019).

Lebih lanjut Usman dalam pernyataan sikapnya mengatakan,”Pengeroyokan tersebut diduga berkaitan dengan dugaan pelanggaran tindak pidana pemilu yang dilakukan oleh oknum calon DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar,yang mana Benedikta Yanubi menemukan dugaan tindak pidana pemilu yang dilkaukan oleh Seprianus Bomaris dalam kasus pembagaian bingkisan Natal dan Tahun Baru 2019,”kata Astuty Usman.

Pengeroyokan terhadap anggota Panwaslu Benedikta Yanubi diduga kuat dilakukan oleh keluarga dari oknum calon anggota DPRD Kepulauan Tanimbar yaitu Maria Rumajak dan Elisabeth Bomaris yang adalah istri dan anak dari Seprianus Bomaris,mana sesuai fakta pengeroyokan terhadap Benedikta Yanubi maka.Bawaslu dan Panwaalu serta Solidaritas Penegak Hak Perempuan nyatakan sikapnya yaitu.

1.Mengecam keras aksi pengeroyokan/tindakan premanisme terhadap anggota Panwaslu desa Lorwembun Kecamatan Kormomolin,yang dilakulan secara membabibuta tersebut,yang mana tindakan itu melanggar hak atas hidup,hak atas rasa aman sebagaimana yang telah diatur dalam UU No 39 Tahun 1999 Tentang HAM.

2.Tindakan pegeroyokan/premanisme yang dilakukan oleh keluarga Seprianus Bomaris sementara diproses oleh sentra Gakkumdu Kepulauan Tanimbar,adalah upaya yang sistematis untuk melemahkan penegakan hukum pemilu dan upaya menghalangi penegakan keadilan serta mencederai harkat martabat Lembaga Pengawas Pemilu.

3.Bawaslu Provinsi Maluku dan Panwaslu serta Solidaritas Penegak Hak Perempuan Maluku menghimbau untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk apapun dan wajib melindungi hak-hak perempuan.

4.Mendesak Kepolisian Maluku dan Polres Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk menindak tegas oknum pengeroyokan terhadap anggota Panwaslu Banedikta Yanubi,serta mengedepankan prinsip integritas yang jujur,adil,professional dan menggunakan hati nurani berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dalam menegakan dalam kasus kekerasan terhadap perempuan.

5.Bawaslu Provinsi Maluku dan Panwaslu serta Solidaritas Penegak Hak Perempuan Maluku meminta Kepolisian Daerah cq Polres Kabupaten Kepulauan Tanimbar mengusut tuntas aktor-aktor dibalik perbuatan ini,karena patut diduga sebagai aksi melemahkan penegakan hukum pemilu.

6.Mendesak Komnas HAM RI perwakilan Maluku untuk melakukan invetigasi dan monitoring terhadap kasus ini.

7.Meminta kepada lembaga perlindungan sakai dan korban (LPSK) untuk melakukan tindakan perlindungan terhadap saksi dan korban dalam kasus ini.

8.Mengajak seluruh masyarakat sipil untuk bekerjasama melawan segala bentuk kekerasan kemanusiaan (kejahatan terhadap perempuan) yang merupakan kejahatan luar biasa dan kejahatan kemanusiaan.

9.Meminta dukungan Komnas Perempuan Nasional terhadap kasus ini.

10.Korban dan pihak terkait secara Update dan berkala mendapat laporan perkembangan penyedikan perkara.

11.Meminta dukungan penuh dari Kemenkum Ham terhadap kelanjutan prosea perkara.

12.Apresiasi bagi Bawaslu Provinsi Maluku .

“Untuk itu Proses ini akan menjadi pembelajaran baik bagi penyelenggara agar konsisten dalam pengawasan penyelenggaraan pemilu.Perempuan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sama haknya dengan irang lain,menghentikan segala bentuk kekerasan bagi perempuan diranah publik,gerakan masyarakat sipil akan tetap konsisten dalam mengawal seluruh proses ini samapi tuntas dan memberikan rasa adil bagi perempuan yang bekerja dirana publik,”tandas Astuty Usman.

Reporter : Aris Wuarbanaran

Editor      : Redaksi

 

Comment here